Di tengah riuh rendah polarisasi global dan bayang-bayang heterophobia, ketakutan akan kehadiran "yang berbeda", sebuah cahaya harapan hadir dari ujung timur Nusantara. Menyadari bahwa perdamaian tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari ruang-ruang kelas yang inklusif, Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Atma Reksa Ende berkolaborasi dengan Institut Leimena dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende menggelar sebuah gerakan strategis: Program Internasional Bersertifikat Pengenalan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bagi Guru dan Tenaga Pendidik Katolik.
Berlangsung secara hibrida pada 12–18 Oktober 2026, program ini melebihi model pelatihan biasa. Ia adalah respons konkret atas panggilan sejarah untuk merawat kebaikan bersama, sekaligus memperingati warisan agung Konsili Vatikan II, khususnya Deklarasi Nostra Aetate yang ke-60. Hadir sebagai keynote speaker, Uskup Agung Ende, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD., membuka cakrawala berpikir para pendidik dengan sebuah premis yang menggugah jiwa, bahwa "Pendidikan adalah jalan Allah mendidik umat-Nya."
Mengingat semangat pertemuan lintas agama di Assisi, Mgr. Budi mengajak para guru untuk secara berani meninggalkan paradigma lama extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan). Ia menantang para pendidik untuk bermetamorfosis.
"Kita dipanggil untuk beralih dari ketakutan akan yang lain (heterofobia) menuju agama yang resurektif; agama yang menjadi sumber inspirasi untuk memperjuangkan martabat manusia dan alam," tegas Mgr. Budi.
"Para guru memiliki peran sentral dalam menciptakan suasana dialogal, di mana peserta didik tidak hanya hidup berdampingan, tetapi berjuang bersama membangun masyarakat yang lebih adil."
Senada dengan visi pastoral tersebut, Dr. Anselmus D. W. Atasoge, Wakil Ketua III Stipar Ende, membedah pergeseran paradigma Gereja dari eksklusivisme menuju inklusivisme. Melalui Nostra Aetate (1965), Gereja secara resmi mengakui adanya ‘sinar kebenaran’ dan ‘benih-benih Sabda’ di dalam tradisi agama-agama lain.
Bagi Dr. Anselmus, pengakuan teologis ini harus turun ke bumi melalui empat pilar pedagogis: pembentukan spiritualitas pribadi, penciptaan ruang aman (safe space) di kelas, pembangunan relasi persaudaraan dengan orang tua dan komunitas, hingga keberanian menghadapi tantangan fanatisme dengan teladan kasih.
Menambahkan dimensi psikologis dan sosiologis, Dr. Yosep Aurelius Woi Bule, Lic. (Wakil Ketua I Stipar Ende) memperkenalkan konsep ‘pluralisme aktif’ merujuk pada pemikiran Diana L. Eck. Pluralisme, tegasnya, bukanlah relativisme atau sinkretisme yang mengaburkan iman, melainkan keterlibatan aktif untuk belajar dari perbedaan tanpa kehilangan jati diri.
"Iman tidak boleh berhenti pada proposisi teologis (ortodoksi), tetapi harus menjadi cara bernapas dan mencintai (ortopraksis)," ujar Dr. Yosep. Ia merumuskan lima kompetensi mutlak bagi pendidik Katolik di era multicultural yakni integritas spiritual, literasi agama-budaya, komunikasi lintas agama, pedagogi inklusif, hingga mediasi konflik.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Stipar Ende, Dr. Fransiskus Z.M. Deidhae, MA., menegaskan bahwa heterogenitas bukan sekadar pilihan, melainkan ‘way of life’ (cara hidup dan berada bersama).
"Stipar Ende sebagai lembaga pendidikan keagamaan tidak sebatas berperan mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga merawat nilai-nilai kemanusiaan, empati, serta kemampuan hidup berdampingan secara damai," ungkap Dr. Fransiskus.
Ia mengapresiasi kolaborasi apik dengan Institut Leimena, Templeton Religion Trust, dan Kementerian Agama Kabupaten Ende. Bagi Dr. Fransiskus, program LKLB ini adalah momentum transformasi. "Pelatihan ini tidak sekedar mentransfer pengetahuan, melainkan diharapkan mentransformasi sikap dalam mengembangkan satuan pendidikan kita menjadi model perawatan kebhinekaan."
Keseriusan program ini dibuktikan dengan hadirinnya deretan pakar kelas dunia dan nasional. Mulai dari Utusan Khusus Presiden RI Dr. Alwi Shihab, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah (UIN Sunan Kalijaga), Dr. Chris Seiple (University of Pittsburgh), Dr. David Rosen (Abrahamic Family House, UAE), hingga Budi H. Setiamarga, Ph.D. (Institut Leimena).
Para peserta yang lulus akan meraih E-Sertifikat setara 32 JP, akses eksklusif ke perpustakaan digital LKLB, serta jejaring alumni lintas budaya.
Sebagai negara dengan ribuan suku dan bahasa, Indonesia adalah 'laboratorium hidup' bagi moderasi beragama. Dan dari Ende, para pendidik Katolik kini dipanggil untuk menjawab tantangan zaman. Mereka tidak lagi sekadar mengajar di dalam kelas, melainkan menjadi agen literasi lintas budaya.
Seperti halnya kutipan penutup dari Nostra Aetate nomor 5 yang menggema dalam acara ini: "Kita tidak dapat menyerukan nama Allah Bapa semua orang, bila terhadap orang-orang tertentu, yang diciptakan menurut citra kesamaan Allah, kita tidak mau bersikap sebagai saudara."
Melalui program LKLB ini, para guru Katolik bertransformasi. Mereka menolak untuk menjadi "benteng" yang mengisolasi diri dari keragaman, melainkan memilih untuk menjadi "sakramen persaudaraan" yang merangkul sesama manusia, membawa cahaya di tengah keberagaman ciptaan Tuhan.
Penulis : Anselmus Dore Woho Atasoge
Tulis Komentar