STIPAR Ende menggelar perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi) yang dirangkaikan dengan penutupan Tahun Akademik 2025–2026 pada Minggu, 7 Juni 2026 di Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD. Acara penuh syukur ini dihadiri oleh seluruh civitas academica: Ketua Stipar Ende, para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa-mahasiswi. Dua kegembiraan berpadu: sukacita iman atas Ekaristi dan sukacita akademik atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui bersama.
Kotbah disampaikan oleh Wakil Ketua I STIPAR Ende, RD. Dr. Josef Aurelius Woi Bule, S.Fil. Lic., yang menegaskan sabda Yesus dari Injil Yohanes: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga... Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Pesan ini menjadi dasar perayaan Corpus Christi. Bahwa ekaristi tidak hanya simbol, melainkan Kehadiran Nyata Kristus. Tubuh, Darah, Jiwa, dan Ke-Allahan-Nya sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur. Perayaan ini mengingatkan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak (fons et culmen) kehidupan Gereja.
Tema perayaan tahun ini, “Dari meja Ekaristi menuju karya dan prestasi”, mengaitkan makna roti hidup dengan perjalanan akademik STIPAR Ende. Meja Ekaristi menyajikan roti hidup, sementara meja akademik menyajikan ilmu yang hidup. Meja Ekaristi adalah meja kurban, dan meja akademik pun meja pengorbanan: air mata, jerih lelah, dan disiplin demi prestasi. Meja Ekaristi membentuk komunitas, sedangkan meja akademik menumbuhkan kemandirian, namun keduanya saling melengkapi. Perjalanan akademik setahun penuh digambarkan sebagai “kelaparan yang tak terlihat”: kelelahan dosen, tantangan tendik, perjuangan mahasiswa, hingga dinamika keseharian kampus. Namun semua itu menjadi bagian dari kurban akademik yang bersumber dari kurban Ekaristi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Ketua STIPAR Ende, RD. Dr. Fransiskus Z.M. Deidhae, M.A., yang menegaskan bahwa antara meja Ekaristi dan meja akademik tidak terpisah, melainkan saling melengkapi: Ekaristi sebagai sumber kekuatan rohani, dan akademik sebagai wadah pengabdian intelektual. Kotbah ditutup dengan ajakan untuk menjadikan Ekaristi bukan sekadar rutinitas atau kewajiban, melainkan pusat kehidupan iman dan akademik. Dari meja altar, civitas academica diutus untuk berkarya dan berprestasi, membentuk lulusan yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. (Anselmus DW Atasoge).
Tulis Komentar