ENDE, 17 Oktober 2026 – Tiga perguruan tinggi, yakni
Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAR) Ende, Universitas Katolik Indonesia Santu
Paulus Ruteng (UNIKA Ruteng), dan Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere,
berkolaborasi menyelenggarakan Seminar Nasional Bedah Buku Deschooling
Society: Relevankah? pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan ini berlangsung
di Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD, Kampus STIPAR Ende, dengan menghadirkan Mgr.
Paulus Budi Kleden, SVD, sebagai narasumber utama. Seminar ini terselenggara
berkat kerja sama ketiga perguruan tinggi tersebut dengan dukungan sponsor PT
Kanisius.
Kegiatan diawali dengan tarian penjemputan di halaman depan
kampus sebagai bentuk penghormatan kepada narasumber dan para tamu undangan.
Iringan tarian mengantarkan rombongan menuju Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD,
tempat seluruh rangkaian kegiatan akademik berlangsung. Penyambutan bernuansa
budaya Kabupaten Ende ini menghadirkan suasana hangat sekaligus memperlihatkan
kekayaan budaya lokal dalam mendukung kegiatan ilmiah di lingkungan perguruan
tinggi.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan
nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh STIPAR Ende,
UNIKA Ruteng, dan UNIPA Maumere. Penandatanganan ini menjadi langkah strategis
untuk memperkuat hubungan kelembagaan dan membangun kolaborasi dalam
pengembangan pendidikan tinggi, penelitian, publikasi ilmiah, serta kegiatan
akademik lainnya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan peluncuran buku Deschooling
Society: Relevankah?. Peluncuran buku ini menjadi momentum untuk
memperkenalkan gagasan-gagasan kritis mengenai pendidikan dan membuka ruang
dialog tentang relevansi sistem persekolahan di tengah perubahan sosial,
perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan pendidikan masa kini.
Setelah peluncuran buku, kegiatan berlanjut dengan pemantik
diskusi yang disampaikan oleh kedua editor buku, yakni Dr. Marianus Mantovanny
Tapung, S.Fil., M.Pd., dan Dr. Yohanes Mariano Dangku, S.Fil., M.Pd. Keduanya
mengantarkan peserta untuk memahami pokok-pokok pemikiran dalam buku sekaligus
membuka ruang refleksi mengenai tujuan pendidikan, peran sekolah, dan
kemungkinan pembaruan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Diskusi semakin diperkaya melalui komentar singkat atas buku
yang disampaikan oleh Dr. Yonas Clemens Dori Gobang, S.Fil., M.A., dan Dr.
Marselus Ruben Payong, M.Pd. Pandangan dan tanggapan dari kedua pemberi
komentar tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif peserta
serta mendorong pembacaan yang kritis terhadap gagasan-gagasan yang diangkat
dalam buku.
Puncak seminar nasional ditandai dengan pemaparan bedah buku oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Dalam sesi ini, perhatian peserta diarahkan pada gagasan utama Deschooling Society dan pertanyaan mendasar yang terkandung dalam judul buku, yakni apakah sistem persekolahan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat masih relevan untuk menjawab kebutuhan manusia dan tantangan zaman. Pada kegiatan ini menjadi sangat menarik karena dipandu oleh moderator yang mampu menjaga diskusi tetap ilmiah, tetapi tidak kaku atau membosankan yaitu Dr.Anselmus W. Atasoge .,S.Fil.,M.Th.
Tema Deschooling Society: Relevankah? mengundang
refleksi kritis tentang hubungan antara sekolah, proses belajar, dan
masyarakat. Pendidikan tidak hanya dapat dipahami sebagai kegiatan yang
berlangsung di ruang kelas, tetapi juga sebagai proses pembentukan manusia yang
berlangsung dalam berbagai ruang kehidupan. Karena itu, diskusi ini menjadi
kesempatan bagi para akademisi, dosen, mahasiswa, dan peserta untuk meninjau
kembali praktik pendidikan serta memikirkan pendekatan yang lebih kontekstual
dan bermakna.
Kolaborasi antara STIPAR Ende, UNIKA Ruteng, dan UNIPA
Maumere, dengan dukungan PT Kanisius, memperlihatkan pentingnya sinergi
antar lembaga dalam mengembangkan budaya akademik. Kerja sama tersebut
diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar, tetapi berlanjut dalam
kegiatan pendidikan, penelitian, publikasi, dan pengembangan pemikiran kritis
di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui seminar nasional ini, ketiga perguruan tinggi
menegaskan komitmen untuk menghadirkan ruang perjumpaan ilmiah yang mendorong
pertukaran gagasan dan pengembangan kualitas pendidikan. Peluncuran buku dan
diskusi yang menyertainya diharapkan dapat menjadi sumbangan berarti bagi
refleksi pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mencari bentuk pendidikan
yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Seminar Nasional Bedah Buku Deschooling Society:
Relevankah? menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi perguruan
tinggi sekaligus mengajak insan pendidikan terus berpikir kritis, terbuka
terhadap pembaruan, dan berani mengevaluasi praktik pendidikan demi masa depan
yang lebih baik. (Supriyanto Seni)
Tulis Komentar