Pada hari Sabtu, 25 April 2026, bertempat di Aula Mgr. Donatus Djagom, telah dilaksanakan kegiatan Debat Calon Ketua dan Wakil BEM/BLM STIPAR Ende yang dimulai pukul 16.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Hedwin Pati dengan dihadiri oleh kepala unit kemasiswaan Dr. Remigius Misa dan Wakil Ketua III Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge acara diawali dengan doa pembuka serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan himne stipar Ende setelah itu MC menyapa peserta serta memperkenalkan rangkaian kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan pengantar dari moderator yang menjelaskan tujuan debat dan tata tertib yang harus diikuti oleh seluruh peserta. Selanjutnya masuk pada sesi penyampaian visi dan misi dari masing-masing pasangan calon, yaitu Paslon 01, Paslon 02, dan Paslon 03, yang masing-masing memaparkan program kerja mereka. Dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator, kemudian sesi debat atau sanggahan antar pasangan calon, pertanyaan penutup kepada masing-masing kandidat, dan diakhiri dengan penutupan oleh MC.
Dalam penyampaian visi dan misi calon Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), Paslon 01 (Matheo) mengusung moto “Intelektualitas yang Berintegritas, Kolaborasi untuk Mewujudkan Kemajuan STIPAR” dengan penjelasan bahwa sebagai calon BLM mereka percaya seorang pemimpin harus berani bertindak optimis. Kolaborasi yang dimaksud adalah bahwa kemajuan kampus tidak dijalankan secara individual, melainkan membutuhkan kerja sama dari seluruh mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika STIPAR Ende. Fokus mereka pada pengembangan karakter mahasiswa yang cerdas, bertindak jujur, dan penuh harapan melalui pendekatan “bahasa cinta”, yaitu jika dipercaya maka apa yang disampaikan mahasiswa itulah yang akan mereka sampaikan kepada pihak atasan STIPAR Ende. Paslon 02(Paket Juarin) mengusung moto “Dari Aspirasi Menuju Aksi, untuk STIPAR yang Lebih Progresif” dengan penjelasan bahwa “dari aspirasi” menandakan keterbukaan terhadap masukan dari seluruh mahasiswa, serta menekankan bahwa mereka tidak bekerja secara pribadi melainkan bersama-sama. “Aksi” yang dimaksud bukan sekadar janji manis, tetapi janji nyata, sedangkan “progresif” berarti membawa kemajuan sesuai perkembangan serta meningkatkan kualitas dan nama baik STIPAR. Mereka juga menegaskan komitmen dengan pernyataan “kami dengar, kami kerjakan, dan kami bawa perubahan”. Paslon 03 (Paket Rosari) mengusung moto “Dari Iman Menuju Karya, dari Kasih Menuju Kepemimpinan yang Berintegritas dan Berkolaborasi” dengan penjelasan bahwa setiap tanggung jawab tidak dapat berdiri sendiri tanpa kesadaran iman sejati. Kepemimpinan tanpa iman akan kehilangan arah, dan tanpa kasih akan kehilangan hati. Mereka juga menekankan kepercayaan mahasiswa sebagai tanggung jawab besar, mengibaratkan “punggung terasa berat” karena kepercayaan tersebut. Makna Rosari sebagai bunga mawar juga diangkat sebagai simbol, serta ajakan kepada seluruh mahasiswa untuk berkolaborasi bersama, dengan penekanan bahwa perempuan memiliki kepekaan terhadap suara-suara orang lain. Mereka mengajak mahasiswa untuk bercerita dan berdiskusi bersama demi mewujudkan STIPAR yang lebih baik.
Dalam penyampaian visi dan misi calon Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Paslon 1 dengan nama paket Aruna, yang terdiri dari Alfianus Ruba dan Yuliana Martina Mi, disampaikan visi yaitu “Terwujudnya BEM sebagai episentrum sinergi mahasiswa yang aktif, transparan, dan berintegritas, dalam mewadahi potensi serta menjadi muara aspirasi guna menghadirkan perubahan nyata dan harmoni kehidupan kampus.” Visi tersebut menegaskan bahwa BEM diharapkan menjadi pusat pergerakan mahasiswa yang mampu bersinergi secara aktif, menjunjung tinggi transparansi dan integritas, serta menjadi wadah dalam menyalurkan potensi dan aspirasi mahasiswa untuk menghasilkan perubahan yang nyata dan menciptakan kehidupan kampus yang harmonis.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Paslon 01 BEM (Aruna) merumuskan beberapa misi, yaitu membangun tata kelola BEM yang profesional, transparan, dan akuntabel melalui internalisasi nilai kejujuran, disiplin, dan etika organisasi sebagai teladan bagi mahasiswa. Selain itu, mereka juga berkomitmen menjadi jembatan komunikasi yang efektif dan responsif dalam menampung serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa secara solutif kepada pihak kampus. Paslon ini juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi inklusif antar UKM, himpunan, dan seluruh elemen mahasiswa guna menyatukan potensi dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Di samping itu, mereka menginisiasi program kerja yang inovatif dan berdampak nyata untuk menjawab kebutuhan akademik, pengembangan diri, serta kepedulian sosial mahasiswa. Terakhir, mereka berupaya menciptakan ekosistem kampus yang harmonis dan suportif dengan mendukung pengembangan minat, bakat, serta prestasi mahasiswa di berbagai bidang.
Kemudian itu Dalam penyampaian visi dan misi calon Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Paslon 02 dengan nama paket Marvilsedek, disampaikan visi yaitu “Mewujudkan BEM sebagai wadah pelayanan yang berintegritas, aktif, peduli dan bermanfaat serta mampu membangun sinergi yang harmonis di lingkungan kampus.” Visi tersebut menegaskan bahwa BEM diarahkan menjadi wadah pelayanan yang mengedepankan integritas, keaktifan, kepedulian, serta memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, sekaligus mampu membangun hubungan yang sinergis dan harmonis di lingkungan kampus.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Paslon 02 (Marvilsedek) merumuskan beberapa misi, yaitu menginternalisasi nilai-nilai kristiani yang inklusif seperti kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap aspek operasional organisasi. Selain itu, mereka berkomitmen menghadirkan berbagai program kerja di bidang seni, olahraga, keilmuan, dan kreativitas sebagai wadah pengembangan bakat dan minat mahasiswa di luar jam perkuliahan. Paslon ini juga menekankan pentingnya menjadikan jajaran pengurus BEM sebagai teladan dalam kedisiplinan waktu, ketaatan terhadap aturan, dan profesionalisme kerja. Di samping itu, mereka berupaya mempererat solidaritas dan kebersamaan antar mahasiswa melalui kolaborasi kegiatan yang inklusif guna menciptakan lingkungan kampus yang harmonis dan bersaudara. Terakhir, mereka menegaskan komitmen untuk menjadikan pola hidup ramah lingkungan sebagai budaya kampus agar tercipta suasana belajar yang sehat, nyaman, dan harmonis bagi seluruh mahasiswa.
Dalam penyampaian visi dan misi calon Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Paslon 03 dengan nama paket Hersin, disampaikan visi yaitu “Mewujudkan BEM STIPAR Ende sebagai organisasi mahasiswa yang aktif, aspiratif, terbuka, dan bertanggung jawab dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa serta mendukung pengembangan akademik dan non akademik, guna menciptakan tatanan kampus yang maju, harmonis, dan berwawasan ekologis sesuai AD/ART yang berlaku.” Visi tersebut menegaskan bahwa BEM diharapkan menjadi organisasi yang tidak hanya aktif dan terbuka, tetapi juga mampu menampung serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa secara bertanggung jawab, sekaligus mendukung perkembangan akademik dan non akademik demi terciptanya lingkungan kampus yang maju, harmonis, dan memiliki kesadaran ekologis.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Paslon 03 (Hersin) merumuskan beberapa misi, yaitu menjadi wadah penyaluran aspirasi mahasiswa yang transparan, responsif, dan inspiratif. Selain itu, mereka berupaya meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan akademik, organisasi, dan sosial kemasyarakatan. Paslon ini juga menekankan pentingnya membangun solidaritas serta hubungan yang harmonis antara mahasiswa, dosen, dan pihak kampus. Di samping itu, mereka mengembangkan program kerja yang kreatif, inovatif, dan bermanfaat guna mendukung minat, bakat, dan potensi mahasiswa. Mereka juga menanamkan nilai kepemimpinan, integritas, serta tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa. Terakhir, mereka menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran ekologis dan mendorong budaya kampus yang ramah lingkungan melalui kegiatan nyata seperti menjaga kebersihan, penghijauan, dan pengurangan sampah plastik.
Dalam proses debat antar pasangan calon, terjadi dinamika diskusi yang cukup aktif, salah satunya ketika Paslon 03 mengajukan pertanyaan kepada Paslon 01 yang berfokus pada mekanisme pengawalan aspirasi mahasiswa. Pertanyaan tersebut menekankan bagaimana cara Paslon 01 memastikan bahwa aspirasi mahasiswa benar-benar diperjuangkan dan tidak hanya sekadar ditampung tanpa adanya tindak lanjut yang jelas, serta langkah konkret apa yang akan dilakukan untuk menjamin realisasi dari aspirasi tersebut. Pertanyaan ini muncul sebagai bentuk kekhawatiran terhadap praktik organisasi yang sering kali hanya berhenti pada tahap penampungan aspirasi tanpa implementasi yang nyata di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Paslon 01 memberikan penjelasan bahwa mereka tidak hanya berperan sebagai penampung aspirasi mahasiswa, tetapi juga memiliki komitmen untuk melakukan proses pengkajian secara mendalam terhadap setiap aspirasi yang masuk. Mereka menegaskan bahwa setiap aspirasi perlu dianalisis terlebih dahulu agar dapat dipahami secara utuh, baik dari segi kebutuhan, urgensi, maupun dampaknya bagi mahasiswa secara keseluruhan. Selain itu, Paslon 01 juga menekankan pentingnya melakukan pendekatan yang baik terhadap pihak kampus sebagai langkah strategis dalam memperjuangkan aspirasi tersebut. Melalui pendekatan ini, diharapkan aspirasi mahasiswa tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat diterima dan dipertimbangkan secara serius oleh pihak kampus
Dalam proses debat antar pasangan calon, terjadi dinamika diskusi yang cukup aktif, dan Paslon 02 mengajukan beberapa pertanyaan kritis kepada Paslon 01. Salah satu pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan makna dari “episentrum sinergi mahasiswa”, yaitu bagaimana Paslon 01 memahami konsep tersebut, apa yang telah atau akan dilakukan oleh mereka, serta langkah konkret apa yang dapat diambil agar sinergi mahasiswa tidak hanya menjadi sekadar konsep, tetapi benar-benar terwujud dalam praktik organisasi. Selain itu, Paslon 02 juga menanyakan bagaimana cara Paslon 01 memastikan bahwa aspirasi mahasiswa benar-benar diperjuangkan dan tidak hanya ditampung tanpa adanya tindak lanjut yang jelas, serta langkah konkret apa yang akan dilakukan dalam merealisasikan aspirasi tersebut.
Dalam sesi penanya dari audiens, berbagai pertanyaan kritis dan reflektif disampaikan oleh peserta yang hadir sebagai bentuk partisipasi aktif dalam menguji gagasan serta kesiapan para pasangan calon. Febri sebagai salah satu penanya mengangkat persoalan yang sering terjadi di lingkungan mahasiswa, yaitu benturan antara kegiatan non-akademik seperti turnamen futsal di luar kampus dengan jadwal ujian akademik di kampus. Ia mempertanyakan bagaimana Paslon 03 mampu mengelola dan menyeimbangkan kegiatan akademik dan non-akademik agar keduanya tetap berjalan secara optimal tanpa saling menghambat, sehingga visi yang telah dirumuskan dapat tercapai secara konkret. Selanjutnya, Aldi mengajukan pertanyaan yang menyoroti peran pasangan calon dalam memperjuangkan suara mahasiswa, khususnya dalam aspek pengembangan intelektual dan jasmani, yang mencakup keseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani mahasiswa sebagai satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan kampus. Pertanyaan ini menuntut pasangan calon untuk mampu menunjukkan komitmen mereka dalam memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa secara holistik.
Selain itu, Edwin mengangkat isu yang lebih luas dengan menyoroti fenomena sosial di luar kampus, seperti kasus bunuh diri yang marak terjadi. Ia mempertanyakan sejauh mana pasangan calon telah melakukan kajian terhadap isu-isu tersebut serta bagaimana langkah konkret yang akan diambil untuk membangun sikap kepedulian mahasiswa terhadap sesama, sehingga kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga menjadi komunitas yang peka dan responsif terhadap persoalan kemanusiaan. Kemudian sedikit penilaian dari Dr. Ramigius Misa selaku kepala unit kemahasiswaan, disampaikan pula catatan penting yang menekankan kesiapan pasangan calon untuk bertanggung jawab atas visi dan misi yang telah mereka tawarkan. Mereka diharapkan bersedia mengambil risiko serta menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang ada apabila terpilih, sekaligus tetap menjaga fokus pada visi dan misi yang telah dirumuskan tanpa kehilangan arah dalam dinamika kehidupan organisasi. Hal ini juga disertai harapan agar keberadaan kaum awam tetap diperhatikan dalam kehidupan organisasi, sehingga kepemimpinan yang terpilih mampu menghadirkan keterlibatan yang inklusif.
Sementara itu, Wakil Ketua III Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi terhadap perkembangan kualitas debat yang dinilai mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Namun demikian, beliau juga memberikan catatan kritis terkait pemaparan visi dan misi oleh ketiga pasangan calon, di mana ditemukan adanya kecenderungan bahwa rumusan misi yang disampaikan masih terdengar seperti visi, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perbedaan antara keduanya. Pada akhir sesi, Wakil Ketua III juga mengajukan pertanyaan reflektif kepada seluruh pasangan calon mengenai motivasi yang mendorong mereka untuk maju hingga berada di panggung debat tersebut. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menggali lebih dalam komitmen, kesadaran, serta panggilan batin para calon pemimpin dalam mengambil tanggung jawab sebagai representasi mahasiswa di lingkungan kampus STIPAR Ende.
Sebagai notulen dalam kegiatan debat calon Ketua dan Wakil BEM/BLM STIPAR Ende, kami menyimpulkan bahwa seluruh rangkaian proses debat telah berlangsung dengan baik, tertib, dan penuh dinamika yang membangun. Setiap pasangan calon telah diberikan kesempatan yang adil untuk memaparkan visi dan misi, menjawab pertanyaan, serta menyampaikan gagasan mereka dalam suasana yang kondusif dan dialogis. Berbagai pertanyaan yang muncul, baik dari sesama pasangan calon, maupun audiens, menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap kemajuan kampus serta harapan besar akan hadirnya kepemimpinan yang mampu membawa perubahan nyata
Proses debat ini tidak hanya menjadi ajang adu gagasan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi seluruh mahasiswa untuk semakin memahami pentingnya kepemimpinan yang berintegritas, responsif, dan berorientasi pada pelayanan. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh mahasiswa STIPAR Ende dapat menentukan pilihan secara bijak dan bertanggung jawab, berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap kapasitas dan komitmen masing-masing pasangan calon. Akhirnya, kami sebagai notulen mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini, serta berharap hasil dari proses ini dapat membawa kebaikan dan kemajuan bagi kehidupan kampus STIPAR Ende ke depannya.
Tulis Komentar